Sehari Menjelajah Guangzhou, Aku Terinspirasi Akan Keberhasilan Pembangunannya

Wisata Guangzhou

Ramelan | Sightseeing
Guangzhou, Guangdong, China | Historical Places
02 Jun 2020


Sehari Menjelajah Guangzhou, Aku Terinspirasi Akan Keberhasilan Pembangunannya
Guangzhou, City of Rams.

How to Get There

Perjalananku kali adalah kesekian kali perjalanan yang gratis alias ada sponsor dana nya. Kenapa bisa? Bagi seorang mahasiswa hal ini dapat kita lakukan dengan mengikuti beranekaragam funded programs seperti lomba, konferensi, summit, dan yang lain. Banyak kog info-infonya di internet. So, perbanyak lah cari informasi karena informasi adalah kunci prestasi. Memang sih perjalananku ini disponsori, tapi semua kebutuhan visa dan travel harus diurus sendiri. Jadi juga harus pintar-pintar untuk memanajemen uang nya agar cukup dan berkesan. 

Untuk mulai ke Guangzhou, aku mulai mempersiapkan ittenary harian dan juga tidak lupa kumpulkan kalimat-kalimat sederhana dalam bahasa mandarin. Pertama aku siapkan visa, nah di Bandung ada jasa travel yang dapat mengurus visa. Harga jasanya pun tidak selisih banyak jika kita urus sendiri ke Jakarta. Alhasil, aku pilih pakai jasa tersebut deh. Dan 1 minggu kemudian sudah jadi. Selanjutnya perjalanan udara aku pilih dengan penerbangan low-cost dengan rute transit Bandung-KLIA-Baiyun International Airport. Biasa kita cek dulu dengan platform pengecekan harga penerbangan, dan saya urutkan dari yang termurah. Hore aku dapat yang murah, waktu itu aku dapat harga IDR 3.197.606 untuk PP dan transit di KLIA sekitar 4 jaman. Aku tidak bosan transit di sana, aku bisa jalan-jalan menjelajah salah satu bandara terbaik tersebut. Di tengah-tengah KLIA itu ada hutan tropis mini dengan nama KLIA Jungle Broad Walk. Wah di sana aku gak mau diem, keliling keluar masuk hutan dan berselfie ria. Asyik sekali, mudah-mudahan di Bandara kita juga ada hal serupa misal Mini Hutan Kalimantan atau yang lain. Sehingga para transit-er tidak jenuh di Bandara. 

Wisata Guangzhou
Kartu Yang Cheng Tong, bisa dibeli di Circle-K Bandara Baiyun 

 

tempat Wisata Guangzhou
Stasiun Metro yang kutuju 

Penerbangan dilanjutkan dan sampailah aku ke bandara yang besar, luas, dan megah yaitu Baiyun International Airport. Di sana aku sendirian, mau gak mau harus muter-muter dulu mengikuti sight. Berbekal ittenary maka hal pertama yang kucari adalah Circle-K. Memang sih aku haus, tapi yang lebih kubutuhkan adalah kartu Yang Cheng Tong. Kartu ini adalah kartu pintar untuk pembayaran dan tiket untuk menggunakan transportasi publik seperti Bus dan Guangzhou Metro (seperti MRT). Seperti pepaptah para backpacker, kalau kita tersesat di kota maka segara cari Stasiun Metro sebagai solusinya. Benar ini yang kuterapkan. Hampir semua sisi kota di Guangzhou sudah terkoneksi dengan lines Guangzhou Metro. Tarif nya sangat ekonomis, dan hebat nya tarif dari dan ke bandara itu tidak berbeda dengan tarif di line lainnya. Peta line/jalur sudah tersedia dengan jelas di papan informasi, dan kita tinggal cuss langsung naik. Oh iya jangan lupa perhatikan setiap pemberhentian jika kita akan beralih jalur/transfer ke line yang berbeda. 

 

What to Do

Guangzhou adalah kota modern dan juga kota budaya. Kota yang pernah menjadi Tuan Rumah Asian Games 2010 ini adalah kota terbesar ke-tiga di Tiongkok dan juga salah satu pusat perdagangan. Sebagai ikon kota modern, Guangzhou punya Canton Tower. Menara ini memiliki tinggi 600 meter, dan menjadi menara televisi tertinggi di Tiongkok dan ketiga tertinggi di dunia. Arsitekturnya sangat unik, menyerupai pinggang manusia yang sedang menoleh ke belakang. Di sekitar menara, kita dimanjakan dengan area pertamanan terbuka yang luas. Cocok untuk bersantai atupun berolahraga pagi. Terlebih waktu malam, Canton Tower dihiasi dengan kerlap-kerlip lampu yang mempesona. Membuat kita enggan untuk melepas malam. 

Destinasi  Wisata GuangzhouBerfoto di depan Canton Tower 

Saya masih ingat sekali pelajaran sewaktu SD dulu, yaitu tentang tokoh revolusioner Tiongkok, Sun Yat Sen. Nah, ternyata di Guangzhou ada sebuah taman dan bangunan yang dikhususkan untuk menghormati jasa-jasanya. Namanya adalah Sun Yat-sen Memorial Hall. Bangunan ini biasanya digunakan untuk acara-acara besar seperti konferensi. Di dalam nya, terdapat foto-foto sejarah tentang perjalanan revolusi dari Sun Yat Sen. 

obyek Wisata Guangzhou

Berfoto di Depan Sun Yat-sen Memorial Hall

Di Guanzhou ada sebuah taman legendaris yang juga terdapat sebuah patung yang konon katanya menjadi asal muasal mengapa kota ini dijuluki sebagai "The City of Rams". Nama taman itu adalah Yuexiu Park. Dari Sun Yat-sen Memorial Hall, saya hanya cukup berjalan kaki. Jaraknya memang dekat, namun keringat cukup terperas karena untuk mencapai puncak bukit harus melewati ratusan anak tangga. Sepanjang jalan, mata akan dimanjakan dengan pemandangan hijau khas perbukitan. Sesampainya di puncak, saya disambut dengan ikon kota Guangzhou, yaitu patung lima ekor kambing. Konon kambing-kambing ini dulu ditinggalkan oleh orang suci untuk memakmurkan kembali Guangzhou. Di samping area patung, terdapat banyak pernak-pernik oleh-oleh yang mayoritas bertembakan Patung Kambing ini. 

Wisata GuangzhouBerfoto di Depan Patung Kambing, Ikon Kota Guangzhou 

Terakhir saya berkunjung ke sebuah museum budaya, yaitu Museum Masyarakat Guangdong - Candi Keluarga Chen. Museum ini merupakan sebuah museum yang berisi koleksi dan pernak-pernik keluarga Chen. Museum ini memiliki bentuk rumah tua dengan ornamen patung-patung yang menghiasi atapnya. Mayoritas pernak-pernik yang dipajang terbuat dari keramik khas Tiongkok. Kita juga dapat membeli souvenir menarik di sini. 

tips jalan jalan di GuangzhouBerfoto di dalam Museum Keluarga Chen 

Itu saja beberapa tempat yang aku kunjungi dalam satu hari. Itu pun masih tersisa malam yang ku gunakan menjelajah pusat kota dengan menggunakan metro.

 

Tips and Trick

Tiongkok merupakan negara yang mempunyai tulisan dan bahasa sendiri, sehingga tips pertama adalah kita harus persiapkan dulu kalimat-kalimat umum dalam bahasa mandarin yang digunakan oleh seorang traveller. Misal nya menanyakan arah, harga, atau transportasi publik. Tapi ada yang lebih efektif, waktu di sana aku malah hanya menggunakan google translate. Dan mereka ternyata dapat memahami apa yang aku ketikkan di google translate. Walaupun secara susunan kalimat agak sedikit kurang tepat, tapi ini sangat membantu. Aku pernah tertinggal bus terakhir. Waktu itu jam 10 malam. Aku menunggu taksi tidak ada satu pun yang lewat. Tempat nya cukup sepi, karena berapada di lingkungan kampus. Akhirnya aku tanya pada pemuda yang lewat. Saya bertanya dengan menunjukkan hasil translate di handphone. Sungguh beruntung nya aku, dia malah memesankan ku sebuah taksi online. Dan ternyata sudah dibayar juga menggunakan aplikasi nya. Tips kedua adalah siapkan paket roaming. Ini sangat penting. Provider internet lokal di sana membatasi bahkan memblokir beberapa aplikasi yang sering kita gunakan. Misal nya situs pencarian google dan aplikasi chating whatsapp. Nah dengan paket internet roaming, kita dapat membuka aplikasi-aplikasi yang sudah sangat melekat dengan kita itu. Tips selanjutnya aku sarankan coba-coba cari tahu dan aktifkan wechat pay. Aku dulu belum menggunakan ini waktu ke sana, dan jika beli apa-apa di warung kelontong terkadang susah kembalian nya. Karena masyarakat sana sudah terbiasa Cashless. Dan pengalamanku wkatu itu mereka menanyakan apakahaku punya akun wechat pay? Mungkin ada alternatif lain juga, seperti Ali Pay. Tips terakhir adalah hubungi kolega atau teman di sana untuk bertanya-tanya. Contoh aku bertanya-tanya tentang home stay dan tempat makanan halal di sekitar kampus. Kalau kalian berstatus mahasiswa, langsung cari saja kota Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) terdekat. Bisa dicari di google atau instagram. Nah waktu itu aku kontak Mas Elbert dari PPI Tiongkok cabang Guangzhou. Aku baru kenal, tapi mas nya sangat baik dan bahkan kita dinner bareng. Keren! Mungkin PPI juga bisa membantu, walaupun kalin bukan berstatus mahasiswa. 

 

 

Where to Stay
Pengalamanku tentang mencari tempat tinggal kurang mengenak kan sih, tapi jadi pembelajaran. Waktu itu aku booking di sebuah platform booking online. Aku cari yang murah dan bisa bayar di tempat. Bookingan nya terkonfirmasi, namun sewaktu aku naik taksi dan mencari-cari alamat yang dimaksud. Sopir taksi nya kebingungan dan tidak berhasil mencari alamat yang dituju. Alhasil aku turun di sekitar alamat tersebut. Ternyata tempat yang kucari itu berada di sebuah gang dan sudah penuh. Aku sempat bingung. Namun aku bertanya ke pemuda yang lewat. Orang nya baik banget. Malah aku diantarkan ke sebuah home stay yang sangat terjangkau harganya 160 Yuan untuk 2 malam, atau sekitar Rp. 328.207,-. Kamar nya juga bersih, ber AC, dan ada pemanas air nya. Jadi aku bisa bikin Mie Instan yang kubawa dari Indonesia. Hehehe
SUGGESTED PARADISE
SUGGESTED CULINARY