297 views | 3 Likes

Menapaki Kearifan Lokal Kampung Naga. Beneran ada Naganya?

4 star (from 3 people)
Garut, Jawa Barat, Indonesia
Category: Meet Locals

Posted on 08 August 2018, 11:07:17
bozerwin
Sightseeing

Kampung Naga yang memiliki Pemandangan pedesaan yang indah ini membuat siapa saja terpikat dengan pemandangannya yang alami...

How to Get There

Halo guys, setelah beberapa waktu lalu gue share tentang pengalaman gue jalan-jalan ke Pantai Rancabuaya yang keren itu, kali ini gue ngga mau share tentang pantai lagi. Jadi ceritanya, Minggu lalu gue sempet cuti buat sekedar ngilangin penat aja dari kerjaan yang terlalu banyak di kantor. Gue pun memutuskan untuk pulang ke Garut selama beberapa hari dan explore keindahan alam disana. Tapi, kali ini yang mau gue share adalah tentang perjalanan gue menjelajah sebuah kampung bernama Kampung Naga di Tasikmalaya. Jadi sebelum pulang ke Garut, gue sempet mampir ke Tasikmalaya. Karena saking keponya gue sama kampung unik ini, gue langsung aja pergi kesana. Kira-kira beneran ada naga nya ngga ya? Gue sih soalnya langsung ngebayangin desa-desa yang penuh naga gitu kayak di film-film China. Hahaha..

Secara administratif, Kampung Naga berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Lokasinya tidak terlalu jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya.

Dan berangkatlah gue dengan mobil pribadi dari Jakarta barengan sama sepupu gue yang kebetulan lagi libur kuliah di Jakarta dan pengen pulang juga ke Garut. Kita pun berangkat setelah sholat subuh, agar jalanan ngga terlalu macet karena perjalanan lumayan jauh guyss, 6 jam. Gue mengambil rute Tol Cikampek - Tol Purbaleunyi - Gerbang Tol Cileunyi - Nagreg - Arah Garut kota - Cilawu - Lokasi Kampung Naga.

Kalo kalian mau naik kendaraan umum juga bisa, tinggal naik bus jurusan kampung rambutan - Garut - Singaparna dan turun di lokasi Kampung Naga. 

Setelah sampai, dari pinggir Jalan Raya Garut - Tasikmalaya yang merupakan tempat parkir, lalu jalan menuju kampung dimana kita harus menuruni tangga atau dalam bahasa Sundanya adalah Sengked yang sudah ditembok sampai ke tepi sungai Ciwulan sejauh 500 meter dengan kemiringan 45 derajat. Selama perjalanan ini pemandangannya sangat indah karena dikelilingi oleh sawah yang hijau.

What to Do

Sesampainya disana, gue disambut dengan suasana yang tenang dan pemandangan yang asri sehingga membuat gue terhanyut, berasa masuk ke lorong waktu yang berbeda. Mungkin Indonesia jaman dulu seperti ini sebelum disentuh dengan peradaban modern. Gue berpikir bahwa kampung ini bakal mirip dengan Suku Baduy yang cenderung menolak peradaban modern, tapi ternyata ngga. Penduduk Kampung Naga lebih menerima peradaban modern. Disini tidak ada aturan berbusana, larangan pendidikan ataupun elektronik. Namun, nasihat dan aturan nenek moyang masih dipegang teguh oleh penduduk Kampung Naga. 

Penduduk kampung ini tidak mau menerima aliran listrik masuk di kampungnya, begitu juga dengan penggunaan gas LPG untuk memasak. Selain itu juga adanya larangan memutar musik dari luar dan tempat keramat yang ngga boleh dimasuki atau difoto. Seperti rumah adat yang hanya boleh dimasuki oleh tetua atau hutan keramat yang dipercaya makam leluhur dari Kampung Naga. Disini juga ada hutan yang ngga boleh dimasukin siapapun lho guys, katanya sih bukan karena terlalu mistis tapi karena untuk kelestarian. Keren banget kan?

Oiya, yang bikin gue kagum disini adalah rumah-rumah penduduk yang seragam alias sama semua. Nah lho, kok bisa? Iyaa karena ada peraturan adat yang mengatur penggunaan bahan bangunan dari kayu atau bambu, atap dari daun nipah atau ijuk dan tidak boleh ada perabotan seperti kursi. Kamar mandi dan kandang ternak juga diberi aturan harus berada di luar area perumahan. Pantesan mereka menolak menggunakan LPG, karena bahan untuk rumahnya sangat mudah terbakar guys.

Dan seperti yang udah gue bilang, gue kepo banget soal naga. Karena cukup aneh aja menurut gue kenapa kampung ini diberi nama Kampung Naga padahal naga adalah ciri khas budaya Tiongkok sedangkan selama berada disini gue ngga sedikitpun melihat adanya pengaruh budaya Tiongkok di kampung ini. Ngga ada ornamen-ornamen ataupun gambaran tentang hewan naga di Kampung Naga. Terus kenapa namanya Kampung Naga?

Ada yang mengatakan, Naga merupakan kata yang berasal dari “Na Gawir” yang dalam bahasa Sunda memiliki arti “Berada Jurang”. Ini karena kampung ini berada di lereng lembah sungai Ciwulan. Untuk dipersingkat, makanya banyak orang yang menyebut kampung ini sebagai Kampung Naga. 

Banyak hal unik yang bisa gue temuin disini guys. Jadi sebenernya desa ini bukanlah desa wisata, karena masyarakat setempat ngga mau menjadi tontonan. Tapi jangan salah, banyak wisatawan lokal hingga mancanegara yang kerap datang kesini. Memang sih ngga ada atraksi khusus untuk menyambut atau menghibur wisatawan, tapi kadang juga ada upacara adat yang diperuntukkan untuk warga lokal saja. Itulah sebabnya, mengapa untuk memasuki desa ini pengunjung sama sekali tidak dikenakan biaya sepeserpun. Tapi, kita masih tetap bisa berkontribusi dengan membeli cinderamata yang dijual di toko kerajinan di dekat pintu masuk dan menyewa jasa pemandu. Tenang aja guys, pemandu disini tidak mematok harga khusus. Kalian bisa kasih aja seikhlasnya.

Puas berfoto-foto dan bersantai, hari juga sudah sore, kami pun segera ijin pamit untuk meneruskan perjalanan menuju Garut. Meskipun hanya sejenak, desa ini cukup bisa memberikan ketenangan buat gue.

Tips and Trick

  • Bawa kamera.
  • Patuhi peraturan yang ada di desa ini.
  • Jaga kelestarian lingkungan.
  • Jangan buang sampah sembarangan.
  • Jangan datang terlalu malam, karena pemandangan indah di desa ini adalah saat pagi hingga sore hari.
  • Jangan memasuki atau memotret kawasan yang dianggap terlarang.
  • Wisatawan diperbolehkan menginap di desa ini, maksimal hanya 1 hari dan harus membuat ijin dahulu kepada penduduk setempat sebelum datang.
  • Video by Official NET News

Gallery (7)

Comments (8)