110 views | 0 Likes

Touring Brastagi

5 star (from 1 people)
Karo, Sumatera Utara, Indonesia
Category: City Trip

Posted on 01 October 2019, 17:11:27
therika21
Sightseeing

Touring menggunakan motor dari Medan menuju Brastagi. menikmati alam sekitar dengan itinerary sendiri dan budget yg murah.

How to Get There

Haloo...

Kali ini saya akan review sedikit mengenai Trip Touring Brastagi dari kota Medan. Saya dan suami berkesempatan mengunjungi Sumatera Utara, dan kami menggunakan kesempatan ini untuk mengeksplore keindahan alam Sumatera Utara. Dan kali ini yang akan saya review adalah Brastagi. Brastagi sendiri adalah daerah yng berada di dataran tinggi Sumatera Utara. Di kota ini bisa dibilang sejuk dan dingin, namun karena saya berkunjung kesana saat musim panas (Juli) maka udara pun bagi saya tidak terlalu dingin, namun cukup sejuk. 

Saya dan suami berangkat menuju Brastagi dari kota Medan pukul 06.00 WIB menggunakan motor. Awalnya kami berniat untuk berangkat pukul 05.00 pagi, namun karena telambat bangun, jadi pukul 06.00 pun kami baru berangkat. Waktu tempuh menuju Brastagi dengan motor dan kecepatan normal yaitu kurang lebih 2 jam. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan nuansa pedesaan, karena memang kami melewati banyak daerah yg masih penuh dengan alam yg indah.



Di kota sudah otomatis tidak ada pemandangan berupa gunung seperti iniembarassed
Oh iya, hati2 saat mengendarai motor menuju Brastagi. Karena banyak truk, mobil pick up, bus, mobil travel, dan kendaraan besar lainnya yang melintasi jalan itu, sekaligus medan jalan juga berkelok-kelok. Kalau kamu memang belum terlalu mahir mengendarai motor, aku saran kan utk tidak bawa motor, karena beresiko kecelakaan. 




What to Do

Tujuan pertama kami adalah Pagoda Taman Lumbini



Masuk Pagoda Taman Lumbini ini gratis ya..parkir juga gratis, tapi ga boleh bawa makanan dan minuman. Sama penjaganya di sana , dikasi tau bahwa jangan ninggalin makanan di luar, karena di dkt tempat parkir masih banyak monyet liar yang suka mencuri makanan. Oh iya, walaupun gratis masuk, tapi tetap dikenakan donasi se ikhlasnya yaaa...

Pagoda Taman Lumbini ini adalah kuil tempat untuk sembayang. Kalau mau masuk dan melihat orang sembayang, boleng bangett..tapi ingat ya untuk menjaga ketenangan dan ketertiban, karena banyak orang ibadah ya, kita harus toleransi dan saling menghormati.

 

Tujuan berikutnya, kami mengunjungi Air Terjun Sipiso-Piso yang terletak di Dataran Tinggi Tongging, Kabupaten Karo. Awalnya kami memang tidak terlalu niat berkunjung ke sana, karena yang kami dengar dari teman2, kalau ke sana, perjalanan cukup jauh. Namun, karena ke kepo-an kami, akhirnya kami mencoba melihat jarak dari Pagoda Taman Lumbini menuju Air Terjun Sipiso-Piso menggunakan google maps dan ternyata hanya 1 jam menggunakan motor. Akhirnya kami pun melanjutkan perjalan kami menuju Air Terjun Sipiso-Piso bermodalkan maps.

Namun ternyata perjalanan cukup jauh dan menguras energi. Tapi kami pun tetap melanjutkan perjalanan kami. Karena menurut kami, untuk apa kembali, karena kapan lagi kami bisa kesini. Berhubung sudah siang, kami sempatkan untuk mampir makan siang di BPK Feronica, rumah makan sederhana di pinggir jalan. Oh iya, BPK ini ga halal ya. BPK nya lumayan murah, 20rb 1 porsi lengkap dengan sup, dan saya pun pesan jeroan dengan harga 10rbu 1 porsi. lumayan untuk mengisi perut.

Sesampainya di Air Terjun Sipiso-Piso, kami pun membayar tiket masuk sebesar 10rb per orang) maaf saya lupa, per orang atau per rombongan. yang jelas tidak mahal. Sampai di sana, kami parkir di dpn toko souvenir, dan langsung jalan ke arah air terjun dengan tulisan/icon Sipiso-piso.




Namun, karena langit sedikit gelap, saya dan suami memutuskan untuk menyewa tukang foto, agar dapat memotret kami dengan baik dan yang pasti dengan hasil yang bagus. Untuk foto disini dikenai biaya, 20rb utk bebrapa kali foto dan dicetak 1 buah. Berikut hasil foto terbaik kami.





Itu hasil jepretan fotografer lokal di sana. Saya dan suami tidak pernah menyewa jasa fotografer lokal, namun kali ini karena trip jauh, kami pun tidak mau melewatkan moment penting ini. Oh iya, jika kalian mau tirun dan mandi air terjun nya, bisa saja, tapi memang akan sangat menguras energi kalian. Kami memilih tidak turun karena kondisi fisik saya yang saat itu sedang cidera kaki, jadi kami menikmati saja di atas. Namun, itu sudah membuat kami puas.

Kami pun kembali menuju Brastagi, dan memutuskan untuk menginap di sana selama satu malam. Sepanjang jalan pulang, kami berfoto di pinggir jalan dengan pemandangan yang indah. Yaitu pemandangan Danau Toba dari atas bukitkiss. Di review sebelumnya, saya sudah menulis mengenai Backpacker ke Danau Toba dan melihat langsung dari dataran rendah, kali ini, saya melihat dari dataran tingginya.



Di belakang saya adalah Danau Toba dari atas ketinggian bukit. Pemandangan sepanjang jalan pulang sangat indah, dan udara sejuk. Saya tidak memakai masker, tapi tidak batuk, biasanya saya batuk kalau terkena debu. Sedikit cerita, saya dan suami hampir ditabrak truk besar dari arah berlawanan. Untung saja, suami saya berhenti di pinggir, kalau tidak, sudah melayang nyawa kami.

Sampai di Brastagi, kami mencari penginapan, setelah mencari-cari dan kami pun mendapatkan penginapan di Hotel Mexico. Mohon maaf saya tidak foto karena sudah sangat capek. Tapi sedikit review dari saya tentang Hotel Mexico :

  1. Harga terjangkau, saya sarankan untuk beli diaplikasi pegi-pegi, traveloka, etc. Karena harganya lebih murah.
  2. Di lantai bawah ada restoran dan kopi dengan harga yang lumayan terjangkau
  3. Bangunan hotel masih baru
  4. Ada air panas, namun saat saya di sana, petugas seperti nya lupa menyalakan
  5. Ada sarapan, namun baru ready jam 8 pagi

Keeseokan harinya, pukul 07.00 pagi, kami Check out dari hotel dan melanjutkan mengunjungi tempat wisata di Brastagi, yaitu Puncak Gundaling. Lumayan dekat dari hotel kami. Tempatnya dekat Tugu Kol Brastagi. Masuk pintu gerbang wisata dikenakan 5rbu per orang, namun parkir gratis. 

Setelah parkir motor, kami langsung jalan untuk naik ke atas berfoto melihat kota Brastagi dari ketinggian.



Ini gunung di belakang saya adalah Gunung Sibayak ya, jangan salah, karena banyak yang mengira ini Gunung Sinabung.






Itu beberapa spot foto di sana yaa...tidak dipungut biaya, namun donasi saja se ikhlasnya. Jika mau lebih oke fotonya, bisa menggunakan jasa fotografer lokal ya, namun tentunya harus bayar.

Setelah mengunjungi Puncak Gundaling, saya dan suami kembali ke kota Medan, dan di jalan kami melihat ada sebuah Gereja Katolik dengan arsitektur rumah adat Karo. Kami pun singgah sekaligus menumpang ke toilet.





Nama gerejanya St.Fransiskus Asisi, karena weekday maka tidak ada pengunjung, hanya ada penjaga dan beberapa anjing. di tembok belakang gereja, ada ukiran Via Dolorosa yang biasa digunakan untuk Jalan Salib saat menjelang Paskah. Setelah mengunjungi gereja, kami pun kembali ke kota Medan menggunakan motor. Kali ini perjalanan pulang kami tempuh selama 3 jam, karena kami banyak berhenti untuk beristirahat. Semoga di lain waktu, saya dapat kembali mengunjungi Brastagi dan mengeksplore keindahan alam yang belum sempat saya kunjungi.

Tips and Trick

  1. Berangkat lebih pagi untuk menghindari kemacetan jika kamu berdomisili jauh dari Brastagi
  2. Bawa uang tunai secukupnya. karena jarang sekali menggunakan uang elektronik untuk transaksi
  3. Jika belum mahir membawa motor, saya sarankan untuk menggunakan transportasi lain, karena sangat berbahaya medan jalannya
  4. Hati-hati dengan mobil besar seperti truk, travel, bis, dll karena mereka mengemudikan dengan kecepatan tinggi
  5. Banyak makanan halal di sana
  6. Datang saat bulan Juni-Juli karena ada festival bunga dan sayur
  7. banyak makanan murah dsana, dan banyak juga makanan non halal seperti BPK dan bakmie siantar
  8. Patuhi peraturan dimana pun kalian berkunjung ya
  9. Jaga kebersihan dan ketertiban
  10. Jaga sopan santun selama di sana

Where to Stay

Hotel Mexico Brastagi

Gallery (12)

Comments (1)