Phnom Penh Terbuat dari Kenangan Makprang dan Pulang

phnom penh

buleg_darmi | Sightseeing
Phnom Penh, Phnom Penh, Cambodia | City Trip
23 Dec 2019


Phnom Penh Terbuat dari Kenangan Makprang dan Pulang
Pernahkah kau sangat mendambakan suatu kota tanpa alasan yang jelas—hingga kau akhirnya datang sendirian dan jatuh cinta dengan cara paling sederhana?

How to Get There

Saya datang ketika buah makprang sedang panen besar dan jadi primadona di pasar-pasar tradisional. Hampir seluruh pedagang, jika tidak menjual hasil perikanan, sayuran, maka mereka menjual buah makprang. Rasanya manis asam, seperti mangga dan buah plum. Kulitnya bisa langsung dimakan tanpa dikupas, berukuran lebih kecil dari mangga, dan buahnya bergerumbul pada dahan pohonnya. Tidak hanya makprang, lengkeng berukuran super besar dan sawo putih (kenitu) pun tak kalah menyita perhatian. Saya tidak tahu bagaimana mereka menyebutnya, yang jelas mereka membandrol dengan harga cukup mahal—hingga saya urung membeli sebelum mendapat partner patungan.

phnom penh

Siang menjelang sore yang cukup gerah itu, jantung saya berdegup kencang. Sesaat setelah pesawat mendarat mulus di Phnom Penh International Airport, mata pun terasa panas hingga berkali-kali mengerjap. Saya pandangi buku-buku jemari sambil menahan rasa penasaran. Inilah kota yang saya impi-impikan, kota yang selalu saya sebut dalam doa, dalam rasa sakit selama masa pengobatan. Harap-harap cemas akan tiket yang sudah terlanjur terbeli membuat saya berpesan pada dokter onkologi; sembuhkan saya, bantu saya agar kuat pergi sendiri ke Kamboja.

What to Do

Tiba hari yang dinanti. Imigrasi berhasil saya lewati dengan tidak lama mengantri. Di pintu keluar, seorang lelaki mengangkat kertas bertuliskan nama saya setinggi dada.

phnom penh

“Welcome to Cambodia!” Senyum ramah itulah yang membuat saya yakin bahwa segalanya pasti lancar di Kamboja. Kekhawatiran, kebingungan, dan keraguan seketika musnah berganti perasaan lega. Mr. Sela, sopir tuk-tuk tersebut telah saya pesan jauh-jauh hari untuk menjemput. Persis dugaan saya sebelumnya, tak butuh waktu lama bagi kami untuk segera akrab.

Di sepanjang jalan dari bandara menuju penginapan dekat Old Market, Mr. Sela banyak bercerita tentang pengalamannya sebagai guru Bahasa Inggris yang merangkap sopir tuk-tuk. Kemampuan berbahasa yang cukup baik berpadu dengan keramahan serta pengetahuan yang luas membuat kami seperti sahabat lama yang kembali dipertemukan.

“Nama Phnom Penh itu berasal dari nama seorang perempuan tua, Nenek Penh. Nenek Penh menemukan sebuah gunung atau dalam bahasa kami disebut Phnom. Jadi, Phnom Penh adalah ‘gunung yang ditemukan oleh Nenek Penh’. Selain itu, ia juga membangun Wat Phnom di atas bukit yang dapat kita lihat tidak jauh dari penginapanmu nanti di Old Market.”

Sambil menikmati kota yang panas berdebu dengan lalu lintas carut-marut, Mr. Sela memberi penjelasan. Sama sekali saya tidak merasa terganggu sebab kota ini memiliki daya tarik yang magis, yang membius saya di tiap jengkal titiknya. Phnom Penh adalah surga bagi pecinta fotografi jalanan, bangunan kolonial berpadu dengan sejarah kelam hingga membuatnya serupa gadis cantik yang tertidur panjang.

phnom penh

Sepanjang jalan, pohon kamboja banyak tumbuh dan bermekaran, mungkin karena inikah disebut negara Kamboja? Saya lupa bertanya pada Mr. Sela karena asyik bermain dengan pikiran yang tak berbatas. Sejarah panjang kota ini telah membawa saya terbang seorang diri, namun tidak, saya tidak hendak mengunjungi Tuol Sleng dan Choeung Ek (Killing Fields). Bapak dan Mama marah besar ketika saya mengutarakan niat mengunjungi kedua tempat itu. Sebagai gantinya, saya tetap boleh pergi asal menghapus mereka dari daftar itinerary dengan alasan; kamu belum menikah, kami takut kamu akan kesurupan. Wadidaw!

Memang, kota ini menyimpan kisah menyeramkan. Tahun 60an hingga 70an, Khmer Merah melakukan perang gerilya untuk melawan rezim Norodom Sihanouk dan Jendral Lon Nol. Kemudian, pada pertengahan tahun 1975 Khmer Merah yang dipimpin oleh Pol Pot berhasil menggulingkan kekuasaan dan menjadi pemimpin Kamboja. Ia memerintah sampai tahun 1979. Dalam masa pemerintahannya, terjadilah pembantaian massal yang sangat mengerikan terhadap kaum intelektual karena dianggap berpotensi melakukan gerakan-gerakan membahayakan. Mereka diculik, dikumpulkan pada suatu tempat, dipasung layaknya tahanan, dipanggil satu persatu, dipaksa mengakui hal yang tidak diketahui apalagi dilakukan. Kemudian, mereka dieksekusi dengan cara digantung, dipukuli, ditusuk. Bahkan, bayi-bayi tak berdosa turut menjadi korban. Di hadapan ibunya sendiri, mereka dibentur-benturkan dengan keras pada sebuah pohon hingga tewas. Lahan kuburan masal para korban tersebut dikenal dengan Killing Fields (Choeung Ek) yang berada 15 kilometer dari Toul Sleng, tempat tahanan Khmer Merah disiksa habis-habisan.

Bagi saya, Phnom Penh tanpa hal-hal mengerikan justru tak ubahnya bagai sebuah romansa. Saya membayangkan saat Perancis masih berjaya dan menjuluki Phnom Penh sebagai “Mutiara Asia” di era 1930an. Sungai Mekong membelah kota dengan sunset yang tak kalah indah dari Sungai Chao Phraya. Di tepinya berjajar hotel, cafe, dan resto makanan Khmer serta India yang layak dicoba. Mr. Sela mengantar saya menuju MK Halal Food di belakang Onederz Hostel, tempat saya menginap. Saya terpikat pada cita rasa “Loc Lac”—daging tumis yang diiris tipis dengan garnis bawang bombay dan dihidangkan dengan nasi hangat. Kepada pemilik restoran, berulangkali saya layangkan pujian.

Dalam kesendirian di kota ini, saya menemukan banyak hal tanpa sadar. Betapa Phnom Penh adalah kota yang sangat ramah pada para pendatang. Sejak turun dari pesawat, hampir tidak ada perempuan berhijab yang saya temui di jalan. Alih-alih memandang saya dengan tatapan aneh, mereka justru menyapa dan mengajak saya berbicara. Sesekali mereka lontarkan tawa-tawa renyah yang membuat saya merasa sedang menemukan rumah. Nah, jika Thailand disebut sebagai The Land of Smile, saya merasa Kamboja lebih pantas menyandang julukan tersebut. Sempat mengenyam pendidikan di Thailand, saya rasa warga di sana belum menerima saya sehangat dan semudah di Kamboja.

***

Sebuah perjalanan memiliki takdirnya sendiri. Tidak harus mewah, namun pasti membawa arti. Itu pula yang selalu saya yakini dan syukuri. Berada di Phnom Penh untuk pertama kali dan seorang diri sempat membuat saya berkecil hati. Namun siapa menduga di sini saya menemukan banyak sahabat. Di hostel, seorang gadis Bavaria langsung memeluk saya dengan antusias saat mengetahui saya tinggal di Bali, Indonesia.

phnom penh

“Kamu adalah orang Indonesia pertama yang kutemui seumur hidupku! Dan beruntungnya, kamu juga berasal dari Bali!” Mata birunya berbinar menatap senyum saya yang lebar. Ia berjanji akan berkunjung ke rumah saya setelah tripnya selesai dari Kamboja menuju Myanmar dan meneruskan perjalanan ke Indonesia. Kami berdua langsung akrab dan pergi mencari makan malam bersama.

phnom penh

Keesokan harinya, sebelum sunrise muncul dari peraduan, saya bertekad menyisir Sungai Tonle Sap yang merupakan anak dari Sungai Mekong. Sungai ini mengalir di sepanjang jalan menuju Royal Palace yang berjarak 1 kilometer dari Onederz Hostel. Di jalan menuju Royal Palace, saya menyaksikan potret kehidupan warga Kamboja yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Mereka mandi di sungai, hidup di sekitar sungai, mencari ikan di sungai untuk dikonsumsi sendiri maupun dijual di pasar. Ikan-ikan air tawar ini seolah menjadi menu utama di Phnom Penh yang banyak dijajakan di pinggir-pinggir jalan. Kamera saya tak henti membidik dan mata saya tak henti mengagumi. Oh Tuhan, ternyata begini wujud kota bernama Phnom Penh yang lama saya dambakan!

Sambil menunggu Royal Palace dibuka, saya duduk di tepi sungai untuk bermain bersama burung-burung yang bergerumbul dan terbang rendah. Banyak sekali di antara warga sekitar yang (lagi-lagi) menyapa saya dan mengajak berbincang dengan bahasa Inggris yang sangat terbatas. Sambil melemparkan pandang ke arah Royal Palace, hati saya menyebut satu nama; Buppha Devi—putri kerajaan Kamboja yang sangat pandai menari Apsara. Kecantikan Buppha Devi sempat membuat Presiden Soekarno jatuh cinta dan ingin mempersuntingnya. Namun sayang, sang putri menolak dimadu hingga Presiden Soekarno hanya puas menjadi sahabat ayahnya, Raja Norodom Sihanouk.

phnom penh

Lagi-lagi harus saya katakan bahwa Phnom Penh adalah kota yang tak kalah romantis dari sudut-sudut di Eropa. Setiap likunya adalah wangi makprang yang bercampur kenangan untuk mengajakmu ‘pulang’ mencari ketenangan yang tak banyak dijumpai di kota-kota besar kebanyakan.

Sebagai akhiran, saya ingin bertanya padamu satu hal; pernahkah kau sangat mendambakan suatu kota tanpa alasan yang jelas—hingga kau akhirnya datang sendirian dan jatuh cinta dengan cara paling sederhana?

Itulah yang saya rasakan di Phnom Penh, Kamboja!

Tips and Trick

phnom penh

Fun Fact Royal Palace Kamboja:

1. Buka pada pukul 08.00 hingga sore hari. Jika ada yang berkata bahwa Royal Palace baru buka pada siang hari, JANGAN PERCAYA! Itu adalah bagian dari scam sebab kamu akan ditawari menumpang tuk-tuk untuk diajak jalan-jalan ke tempat lain.

2. Tiket masuk Royal Palace seharga USD 12, bisa dibayar pula dengan mata uang Riel.

3. Tiket sudah termasuk air mineral yang dibagikan di pintu keluar, kamu boleh mengambil sepuasnya. Selama di dalam, tidak ada penjual makanan dan minuman jadi harus pandai ‘menyimpan’ sedikit air agar tidak kehausan.

phnom penh

4. Toilet Royal Palace berada di ruangan bawah yang sepi namun bersih.

5. Royal Palace tidak terlalu ramai jika dibandingkan istana di negara-negara tetangga.

phnom penh

6. Tidak banyak temple/kuil yang bisa diselamatkan saat Khmer Merah berkuasa. Silver Pagoda adalah salah satu yang mampu bertahan meski beberapa bagian telah dipugar.

phnom penh

Where to Stay
SUGGESTED PARADISE
SUGGESTED CULINARY